Paradise on Earth

Hari #1: Unjur – Tomok – Tanjungan – Onan Runggu – Nainggolan – Palipi – Mogang – Simbolon – Rianiate – Pangururan – Unjur

108LakeTobaSamosirTidak ada rasa bosan ketika merencanakan perjalanan ke Samosir. Selalu ada rasa rindu untuk menyaksikan keindahan danau biru, pohon kelapa dan tawa ceria anak-anak yang bermain di tepi danau. Perjalanan kali ini dimulai pada hari Sabtu Pagi dan akan berakhir di hari Minggu sore.

Untuk mencapai Pulau Samosir dari Kota Parapat, kita harus menyeberangi danau dengan kapal penumpang. Penyeberangan ke Pulau Samosir bisa dilakukan Pelabuhan Tigaraja di Kota Parapat. Kapal-kapal di pelabuhan ini memiliki beberapa trayek yang sebagian besar menuju Tomok dan Tuktuk di Pulau Samosir. Penyeberangan dari Pelabuhan Tigaraja ke Tomok memakan waktu 30 menit.

Kapal yang menuju Tomok ini dijadwalkan berangkat setiap 30 menit sekali sejak pagi hingga malam hari. Ongkos sekali penyeberangan adalah Rp. 5.000. Sedikit berbeda dengan kapal penumpang yang menuju Tuktuk, penyeberangan memakan waktu sekitar 40-50 menit karena setiba di Tuktuk setiap tamu akan di-drop di beberapa titik di tepi danau, misalnya di pelabuhan dan hotel-hotel di sepanjang danau di Tuktuk. Ongkos untuk menyeberang ke Tuktuk adalah Rp. 10.000.

Saya beruntung mendapatkan kapal yang sudah akan berangkat, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk tiba di Pulau Samosir. Perjalanan sepanjang menyeberangi Danau Toba sungguh merupakan suatu hal yang selalu menarik. Dapat menyaksikan danau yang tenang dan berada di atasnya, lalu lalang kapal-kapal penumpang dan ferry yang menyeberangkan manusia dan kendaraan-kendaraan, jajaran pegunungan dan angin sepoi-sepoi.

Setibanya di Tuktuk, kapal menghantarkan saya ke halaman Hotel Silintong yang letaknya persis di tepi Danau Toba. Setelah berjalan sekitar lima menit saya tiba di tempat penyewaan motor bernama Fiona. Saya berencana menyewa satu motor untuk dipakai selama dua hari berada di Pulau Samosir. Terdapat banyak tempat penyewaan kendaraan di daerah Tuktuk tetapi teman saya memberi rekomendasi ke Fiona. Harga penyewaan motor untuk sehari di Fiona sekitar Rp. 80.000. Jika ingin menyewa motor, kita harus meninggalkan KTP atau tanda pengenal sebagai jaminan.

Dari daerah wisata Tuktuk, saya mengendarai motor selama 15 menit menuju desa Unjur untuk menjemput partner saya untuk eksplorasi Samosir.

Motor sudah siap, peralatan memotret sudah siap, kami pun berangkat dari Tuktuk dan memulai perjalanan. Hari sangat cerah dan rute yang kami jalani hari ini adalah mengelilingi Pulau Samosir.

Dari Desa Ujur yang bersebelahan dengan Ambarita, kami melewati Desa Tomok menuju Desa Tanjungan. Di desa ini, kita bisa menyaksikan pemandangan luasnya Danau Toba, jajaran gunung-gunung di Pulau Samosir dan Pulau Sumatera. Perjalanan dilanjutkan menuju Onan Runggu. Di tempat ini kita bisa menyaksikan persawahan yang hijau dan terletak di tepi danau. Dari desa Onan Runggu ini kita bisa menyaksikan kota Balige di Kabupaten Toba Samosir (Pulau Sumatera).

Nainggolan adalah tujuan selanjutnya. Di daerah ini kita bisa melihat sebuah batu yang berada di atas danau. Batu ini disebut dengan Batu Guru. Saya sudah beberapa kali ke tempat ini dan tidak pernah bosan memotret Batu Guru dengan foreground sebuah pohon kelapa di tepi danau. Selalu ada hal baru di setiap kunjungan, terkadang ada anak-anak kecil yang sedang bermain air, terkadang ada gembala yang membawa kerbau atau ibu dan anak-anaknya yang berjalan menjunjung ember menuju danau.

Setelah dari Nainggolan, kami menuju tempat istimewa selanjutnya, Palipi. Daerah ini adalah spot favorit saya jika sedang berkeliling Pulau Samosir. Pohon-pohon kelapa di tepi danau, jalan lurus membentang, celoteh anak-anak, para ibu yang bekerja di sawah, rumah di tengah sawah adalah pemandangan yang tidak akan pernah terlupakan.

Simbolon bisa dicapai setelah Palipi. Terdapat hot spring di daerah ini, meski saya belum pernah merasakannya langsung seperti di Pangururan. Ada sebuah rumah makan yang menyediakan manuk napinadar, makanan khas Batak yang sangat enak di sekitar hot springs di Simbolon, pemiliknya bermarga Sinurat. Manuk napinadar akan dimasak pada saat kita pesan, sehingga makanannya benar-benar segar, meski harus menunggu sekitar satu jam sampai makanan dihidangkan.

Perjalanan dari Simbolon dilanjutkan ke Rianiate dan kemudian ke Pangururan yang merupakan ibu kota Kabupaten Samosir. Di tempat ini kita bisa menyaksikan matahari terbenam dengan menghadap pada bentangan danau dan jajaran gunung yang luas. Lokasi kesukaan saya untuk mengabadikan pertukaran terang ke gelap adalah di depan rumah dinas Bupati Samosir.

Dari kota Pangururan, kami bergerak kembali ke Unjur dengan mengendarai motor kurang lebih satu jam. Dan total waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi Pulau Samosir kali sekitar 6 jam, sudah termasuk berhenti untuk memotret dan beristirahat. Meski pulang sudah dalam kondisi gelap, perasaan senang masih terus tersisa. Menyaksikan keindahaan Danau Toba dan Samosir adalah suatu kesempatan yang sangat disyukuri.

Hari #2: Unjur – Pangururan – Boho – Unjur

141LakeTobaSamosirPerjalanan mengelilingi Pulau Samosir ternyata belum cukup memuaskan rasa penasaran akan keindahan Pulau Samosir. Hari kami akan menuju daerah Boho, sekitar 1,5 jam perjalanan dari Desa Unjur, melewati kota Pangururan.

Hari masih pagi ketika kami berangkat dengan mengendarai motor. Setiba di kota Pangururan, kami sarapan terlebih dahulu sebelum menuju Boho. Perjalanan dari Pangururan menuju Boho menyajikan keindahan pemandangan Danau Toba dengan pegunungan-pegunungan yang masih hijau. Untuk mencapai tempat yang disebut Peabang di daerah Boho ini, kami harus menyusuri jalan mendaki hingga sampai ke sisi yang tinggi. Dari tempat ini kita bisa menyaksikan pemandangan luasnya Danau Toba dan gunung yang berlapis-lapis. Sungguh beruntung rasanya bisa sampai di tempat ini.

Setelah puas memotret, kami kembali ke Unjur. Diantara Pangururan dan Unjur, kami singgah terlebih dahulu di Desa Lumban Suhisuhi yang merupakan desa wisata kerajinan tenunan ulos khas Batak. Di desa ini kita akan menemui penduduk yang masih tinggal di rumah adat tradisional Batak dan dalam satu kampung akan terdapat rumah-rumah Batak yang saling berhadapan dengan halaman luas di tengahnya. Para ibu biasanya akan bertenun ulos di teras rumah masing-masing. Tempat ini telah sering dikunjungi wisatawan, bahkan dijadikan lokasi untuk syuting iklan televisi.

Tak terasa hari telah sore ketika kami kembali di Unjur. Sungguh dua hari perjalanan yang sangat menyenangkan. Mata disuguhi berbagai keindahan alam, keramahan manusia, kekayaan budaya. Syukur pada Tuhan, Sang Pencipta.

 with Debby Simarmata, Februari 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s