Si Horas Martandang

Si Horas adalah pemuda yang sangat pemalu.Suatu hari dia mengajak sahabat dekatnya martandang ke rumah seorang gadis yang sedang disukainya.

“Jabingar, malam ini temanilah aku menemui si Purnama yang sering kuceritakan itu,” bujuk si Horas. “Aku mau menyampaikan kalau aku sangat mencintai dia dan ingin menjadi pacarnya.”

“Horas, bukankah lebih baik suasananya kalau hanya ada kamu dan dia pada saat-saat seperti itu,” kata si Jabingar mencoba menolak.

“Tidak. Sebaiknya kamu ikut dulu. Setelah beberapa saat aku akan beri kode supaya kamu pergi duluan. Lalu aku akan sampaikan kepadanya saat kami berdua,” kata si Horas.

“Baiklah kalau begitu,” kata si Jabingar.

Setelah tiba di rumah si gadis, si Horas memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar gadis pujaannya dan memperkenalkan sahabatnya tadi.

“Ito Purnama, kenalkan ini sahabatku,” kata si Horas kepada si Purnama sambil menoleh kepada si Jabingar.

“Horas ito. Jabingar.”

“Horas ito. Purnama.”

Setelah saling menanyakan asal dan silsilah kelurga masing-masing ternyata Jabingar dan si Purnama masih ada pertalian saudara. Si Jabingar ternyata adalah keponakan dari sepupu namborunya Purnama.

“Ternyata kita marpariban ya?” kata si Jabingar kepada si Purnama yang membuat suasana menjadi semakin akrab. Si Horas pun ikut merasa senang. Tanpa disadari perbincangan antara Si Jabingar dan si Purnama tentang keluarga masing-masing ternyata sudah berjam-jam hingga si Horas melirik jam tangannya. Si Jabingar yang mengetahui sinyal yang diberikan oleh si Horas melihat ke arah Purnama dan berkata.

“Ito aku mau ke warung di depan sebentar saja. Rokokku sudah habis.” kata si Jabingar kepada Purnama sambil melihat ke si Horas.

“Eh tunggu dulu Jabingar. Sebaiknya kamu di sini dulu. Ada yang penting sekali ingin kusampaikan kepada ito Purnama,” kata si Horas sambil menahan si Jabingar yang sudah hendak beranjak.

Si Jabingar mulai bingung. Karena ini di luar skenario yang mereka sepakati sebelumnya. Setelah terdiam beberapa saat, si Jabingar bergantian memandangi Purnama dan si Horas temannya yang tampaknya agak sedikit grogi.

“Tapi sebaiknya aku beli rokok dulu sebentar. Kau tahu, rokokku sudah habis sejak tadi.” kata si Jabingar masih ingat bahwa si Horas ingin menyampaikan isi hatinya kepada si Purnama. Dan tidak seharusnya dia berada di sana saat-saat seperti itu.

“Jangan. Nanti saja. Sekarang aku mau kamu ada di sini.” kata si Horas memohon sambil meremas-remas kedua tangannya yang sepertinya kedinginan.

“Okelah. Kalau begitu sampaikanlah kepada ito Purnama apa yang mau kamu sampaikan…” kata Jabingar mengalah dan duduk kembali.

Si Horas hanya terdiam untuk beberapa saat. Sesekali dia melihat ke si Jabingar yang setiap kali memberi tanda kepada si Horas agar segera menyampaikan maksudnya.

“Sampaikanlah Horas,” kata si Jabingar mencoba memberi semangat kepada si Horas.

“Aku sampaikan saja sekarang ya?” kata si Horas kepada si Jabingar seperti mendapat kekuatan baru.

Mendengar itu lalu si Horas menoleh kepada si Purnama.

“Baiklah ito. Errrr………Maksudku….errrrr……..kami permisi dulu mau pulang ya……… Hari sudah larut malam…” kata si Horas kepada si Purnama.

*Martandang (bahasa batak) = berkunjung

Petrus Marulak Sitohang (par Bintan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s