Kampung itu Bernama Sarimatondang

Bertemu di blog, berlanjut di facebook, itulah perkenalan dengan Ito Eben. Blogger yang satu ini sangat cinta dan bangga terhadap kampung halamannya. Sarimatondang, Aek Simatahuting, sudah sangat sering saya dengar melalui beliau. Berawal dari rasa penasaran, akhirnya aku bersama seorang teman berkunjung ke sana, ke kampung halamannya itu, Sarimatondang namanya. Aku tampilkan foto-foto perjalanan ke sana, dan di bawah ini adalah penuturan Ito Eben tentang Sarimatondang, yang juga telah dituliskan di blog-nya http://sarimatondang.blogspot.com

————

Sehebat dan sepopuler apa pun kalimat Shakespeare, “What is a name…”, sebuah nama selalu mempunyai asal dan mempunyai arti. Sarimatondang, desa yang saya banggakan itu, juga punya arti.

Menurut orang-orang tua yang pertama kali tinggal di desa itu, Sarimatondang berasal dari kata, Sarima Tondong. Tondong dalam bahasa Simalungun berarti keluarga dari pihak ibu atau istri kita. Jadi Sarima Tondong berarti cari lah keluarga dari pihak ibu atau pihak istri atau bakal dari keluarga istri. Orang Batak pada umumnya, termasuk Simalungun, dilahirkan dari keluarga besar dan menganut sistem patrilineal. Keluarga dari pihak Bapak sudah otomatis keluarga kita. Jadi, yang penting adalah mengenal dan mencari keluarga dari pihak Istri. Dengan kata lain Sarima Tondong berarti cari dan jadilah menjadi bagian dari sebuah keluarga yang sebesar dan sebanyak mungkin.

Sebutan lain dari Sarimatondang adalah Kandang Lobbu. Dalam bahasa Indonesia itu berarti Kandang Lembu. Konon di Sarimatondang ada orang Benggali yang memelihara ternak lembu.

Rumah saya berada tak jauh dari Gereja GKPS di desa itu. Dulu kala namanya disebut Lambow, berasal dari kata Land Bow. Dari Bahasa Belanda, ini berarti tanah pertanian atau tanah yang subur. Di sini dulu ada orang-orang yang berkebun sayur-mayur yang pengolahannya sudah memakai teknik yang lebih maju. Apalagi diusahakan di bawah pengawasan Pemerintah Belanda.

Nama Sarimatondang juga membawa penafsiran yang lebih luas. Setiap orang yang berkeinginan tinggal di Sarimatondang harus berperilaku sopan, berbahasa sebagaimana menghadapi Tondong, atau keluarga dari pihak istri. Dalam kebudayaan Simalungun, Tondong adalah pihak yang mendapat posisi paling terhormat.

Sarimatondang dengan begitu, membawa juga pengertian bahwa seseorang harus cermat menyesuaikan diri dan mengabdi kepada umum.

Karena tanahnya yang subur, Sarimatondang mengundang banyak pendatang untuk bercocok tanam. Makin hari makin ramai lah desa ini, diisi oleh beraneka latarbelakang penduduk, termasuk sukunya. Jika awalnya penduduk asli adalah orang Simalungun, lambat laun menjadi multietnis, diisi oleh penduduk suku Toba, Jawa dan bahkan Tionghoa.

Daerah Sarimatondang dulunya merupakan kawasan pemerintahan Partuanan Sidamanik, Kerajaan Siantar. Setelah zaman kemerdekaan, ia menjadi kecamatan dengan kantor kecamatan di Tigaurung, sekitar setengah jam perjalanan dari Sarimatondang. Pada tahun 1951 kantor kecamatan dipindahkan ke Sarimatondang. Perpindahan itu makin memunculkan kegairahan orang untuk pindah ke desa kecil itu.

Tak jauh dari Sarimatondang, sejak zaman Pemerintahan Belanda telah berdiri pabrik the di Emplasemen Sidamanik, pabrik the Bah Butong dan Bah Birong Ulu. Ini menjadi tempat pengolahan daun the yang perkebunannya terhampar luas di kecamatan Sidamanik. Perusahaan di belakang pengolahan ini dahulu antara lain Handel Vereniging Amsterdam (HVA). Kini bernama PTP IV Nusantara.

Kini Sarimatondang telah berkembang menjadi desa kecil yang relatif maju. Tiga puluh tahun lalu, saya harus berjalan kaki setengah kilometer menuju sungai Aek Simatahuting atau sungai Aek Manik untuk mandi dan ‘memikul’ air untuk dibawa pulang. Sejak 10 tahun lalu penduduk sudah menikmati air ledeng, dialirkan ke rumah-rumah dibawah pengusahaan Perusahaan Air Minum Daerah.

Sebuah jalan besar membelah Sarimatondang. Di kiri-kanannya berbaris rumah, sebagian besar tanpa pagar. Rumah-rumah itu kini sudah dilengkapi oleh telepon. Orang Sidamanik juga sudah akrab dengan telepon genggam. Ada banyak warung telekomunikasi (wartel) dan ada satu dua warung internet. Sebuah pasar di dekat lapangan sepak bola, menambah keramaian desa itu di hari Kamis, Jum’at dan Minggu.

Yang selalu menggembirakan bila pulang kampung adalah saya masih terlalu sering harus menerima jabat tangan dari siapa pun, yang mengenal saya atau pun mengenal kedua orang tua. Di Gereja, di pasar, di angkutan umum dan tentu saja, di rumah ketika kongkow-kongkow dengan tetangga, sapaan akrab dan canda lepas selalu hadir.

Itulah Sarimatondang yang tak pernah terlupakan.

© Eben Ezer Siadari
(Sebagian besar data untuk tulisan ini diambil dari buku Jubileum 50 Tahun GKPS Sarimatondang (1954-2004), yang disusun oleh Wismark Siadari BA dan kawan-kawan. Ehm, Siadari yang ini ayah saya. Hallo Bapa, apa kabar? Gelar BA di belakangnya tak pernah lupa ia tuliskan, dalam hal apa pun, termasuk seandainya ia mengisi kupon undian. Orang zaman dulu memang begitu, katanya.)

————

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s