Menjadi Saksi Dalam Susah Dan Senang

Ini beda, sangat-sangat berbeda dengan minuman yang disebut orang es cendol atau es dawet, ini minuman namanya “Seddor” 😉 Di kampung kami di Tarutung, minuman ini sering ditemukan pada pelaksanaan upacara adat, baik saat acara duka maupun suka.

Penjualnya akan datang dengan manghunti (menjunjung) meja kecil di kepala, menenteng hudon (periuk) di satu tangan, dan tak lupa membawa kompor untuk menjaga sang “Seddor” tetap panas, gelas-gelas dan sendok-sendok. Disajikan panas-panas, tentu saja makin menggugah selera, apalagi di kota Tarutung yang dingin. Diminum setelah makan siang, sambil duduk bergerombol di tengah tenda pesta.

Lalu apa perbedaannya dengan es cendol atau es dawet? Menurutku kenangan di balik “Seddor” inilah yang membuatnya lebih istimewa. Kenangan tentang kampung halaman, tentang kebersamaan, tentang cerita yang terlontar seiring tegukan hangat di tenggorokan. Ini bukan sekedar kenikmatan di balik rasa manis gula merah dan santan, tapi tentang segelas minuman berwarna cokelat dan hijau yang telah menemani, menjadi saksi dalam susah dan senang.

@Tarutung – 17 Oktober 2010

Advertisements

3 thoughts on “Menjadi Saksi Dalam Susah Dan Senang

  1. hera na hea hubereng on di huta nami.. hahahhaha,,,

    *dirippu si jon on do haroa holan di SBB adong sendor ate*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s